UKOM Ners dan D3 Keperawatan merupakan tahapan penting untuk mengukur kesiapan lulusan dalam menerapkan kompetensi keperawatan secara aman, tepat, dan profesional. Soal yang diujikan umumnya berbentuk studi kasus klinis atau vignette, sehingga peserta tidak cukup hanya menghafal teori, tetapi juga harus mampu menentukan masalah utama, prioritas tindakan, dan intervensi yang paling tepat.
Untuk membantu persiapan, artikel ini menyajikan contoh soal UKOM Ners dan D3 Keperawatan lengkap dengan kunci jawaban serta pembahasan rasional. Materi mencakup Keperawatan Medikal Bedah, Gawat Darurat dan Kritis, Maternitas, Anak, hingga Keperawatan Jiwa, disertai tips membaca vignette dan strategi mengerjakan ujian CBT secara lebih efektif.
Daftar Isi
ToggleJadwal & Blueprint Uji Kompetensi Nakes Periode Terkini
Bagi peserta UKOM Ners dan D3 Keperawatan, mengetahui jadwal pelaksanaan sejak awal penting agar waktu belajar, latihan soal, dan persiapan administrasi dapat diatur dengan baik. Pada 2026, pelaksanaan Uji Kompetensi Nasional Mahasiswa Keperawatan dibagi dalam beberapa periode untuk Program D3 Keperawatan dan Profesi Ners.
Jadwal UKOM Keperawatan 2026 yang beredar melalui Surat Edaran Pelaksanaan UKOM Mahasiswa Keperawatan Tahun 2026 adalah sebagai berikut:
| Periode | Pendaftaran | Pelaksanaan UKOM | Pengumuman |
| Periode I | 23 Februari–2 Maret 2026 | 4–6 April 2026 | 19 April 2026 |
| Periode II | 3–12 Juni 2026 | 18–20 Juli 2026 | 4 Agustus 2026 |
| Periode III | 8–17 Juli 2026 | 22–24 Agustus 2026 | 8 September 2026 |
| Periode IV | 2–11 September 2026 | 17–19 Oktober 2026 | 3 November 2026 |
Per September 2026, UKOM Periode III telah selesai dilaksanakan dan pendaftaran Periode IV dijadwalkan berlangsung pada 2–11 September 2026. Peserta tetap disarankan mengecek portal resmi UKOM Ners atau D3 Keperawatan karena jadwal dan ketentuan teknis dapat diperbarui oleh penyelenggara.
Sementara itu, blueprint UKOM menjadi acuan penting untuk mengetahui ruang lingkup kompetensi yang akan dinilai. Portal resmi UKOM menyediakan Blueprint Uji Kompetensi dan Pedoman Persiapan secara terpisah untuk Program D3 Keperawatan maupun Profesi Ners.
Secara umum, materi yang perlu dikuasai meliputi:
- Keperawatan Medikal Bedah
- Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis
- Keperawatan Maternitas
- Keperawatan Anak
- Keperawatan Jiwa
- Keperawatan Keluarga dan Komunitas
- Keperawatan Gerontik
- Manajemen Keperawatan
- Etik, legal, dan profesionalisme
- Keselamatan pasien serta komunikasi terapeutik
Soal UKOM tidak hanya menilai kemampuan mengingat teori. Peserta dituntut menggunakan data dalam kasus untuk menentukan masalah keperawatan, prioritas tindakan, intervensi, evaluasi, maupun keputusan klinis yang paling tepat.
Rumus Cepat Analisis Soal Vignette (Identifikasi Data Fokus & Masalah Utama)
Soal vignette biasanya menyajikan banyak informasi sekaligus, mulai dari usia, keluhan, riwayat penyakit, hasil pemeriksaan, TTV hingga data laboratorium. Tidak semua data memiliki bobot yang sama. Kunci mengerjakannya adalah menemukan informasi yang paling menentukan kondisi pasien.
Gunakan pola sederhana FOKUS → ABC → MASALAH → TANYA → PILIH.
1. Temukan Data Fokus
Cari data yang paling abnormal atau paling berhubungan dengan keluhan utama. Perhatikan terutama perubahan kesadaran, pola napas, tekanan darah, nadi, suhu, saturasi oksigen, perdarahan, nyeri, dan hasil pemeriksaan objektif.
Contoh: pasien mengeluh sesak dengan RR 32 kali/menit dan SpO₂ 86%. Data fokusnya bukan usia pasien atau lama dirawat, tetapi gangguan pernapasan dan rendahnya saturasi oksigen.
2. Periksa Prioritas ABC
Gunakan prinsip:
A – Airway: apakah jalan napas terbuka?
B – Breathing: apakah ventilasi dan oksigenasi adekuat?
C – Circulation: bagaimana nadi, tekanan darah, perfusi, dan perdarahan?
Jika terdapat ancaman pada airway atau breathing, jangan memilih tindakan yang menangani masalah kurang mendesak terlebih dahulu.
3. Tentukan Masalah Utama
Gabungkan keluhan utama dengan data objektif yang paling kuat. Hindari langsung memilih diagnosis hanya karena satu tanda muncul. Cari kumpulan data yang paling konsisten menggambarkan masalah pasien.
Misalnya pasien mengalami sesak, penggunaan otot bantu napas, RR meningkat, dan SpO₂ rendah. Masalah prioritas lebih mengarah pada gangguan oksigenasi dibandingkan masalah kenyamanan.
4. Baca Kata Kunci Pertanyaan
Perhatikan apa yang sebenarnya diminta soal:
- Masalah keperawatan utama → pilih diagnosis yang paling didukung data.
- Tindakan pertama/prioritas → gunakan ABC dan keselamatan pasien.
- Intervensi selanjutnya → lihat tindakan yang sudah dilakukan pada vignette.
- Data yang perlu dikaji → pilih informasi yang paling menentukan keputusan.
- Evaluasi keberhasilan → cari indikator yang menunjukkan masalah membaik.
Kesalahan yang sering terjadi adalah memilih tindakan yang benar secara teori, tetapi bukan jawaban dari pertanyaan yang diminta.
5. Pilih Jawaban Paling Prioritas, Bukan Sekadar Benar
Dalam UKOM, beberapa opsi dapat terlihat sama-sama benar. Pilih tindakan yang paling aman, paling mendesak, berada dalam kewenangan perawat, dan paling sesuai dengan data pasien saat itu.
Sebagai rumus singkat, ingat:
Data abnormal paling kuat → tentukan ancaman ABC → identifikasi masalah utama → lihat apa yang ditanya → pilih intervensi paling prioritas.
Dengan pola ini, Anda tidak perlu menghafalkan seluruh vignette. Fokuskan perhatian pada data yang mengubah keputusan klinis dan eliminasi pilihan yang tidak menjawab masalah utama pasien.
Latihan Soal Keperawatan Medikal Bedah (KMB)
Berikut beberapa contoh soal UKOM Keperawatan Medikal Bedah yang dapat digunakan untuk melatih kemampuan analisis kasus, penentuan masalah utama, dan prioritas tindakan keperawatan.
Soal 1
Seorang laki-laki, 58 tahun, dirawat dengan keluhan sesak napas yang semakin berat sejak 2 jam terakhir. Pasien memiliki riwayat gagal jantung. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 160/90 mmHg, N 112 kali/menit, RR 32 kali/menit, SpO₂ 86%, terdengar ronki basah bilateral, dan pasien tampak gelisah.
Tindakan keperawatan prioritas adalah …
A. Membatasi asupan cairan oral
B. Memposisikan pasien semi-Fowler dan memberikan oksigen sesuai kebutuhan
C. Mengukur berat badan harian
D. Memberikan edukasi diet rendah garam
E. Mencatat keseimbangan cairan selama 24 jam
Jawaban: B
Pembahasan:
Pasien menunjukkan gangguan oksigenasi akut dengan sesak, takipnea, SpO₂ 86%, dan ronki basah. Prioritas adalah memperbaiki ventilasi serta oksigenasi melalui posisi semi-Fowler dan pemberian oksigen.
A kurang tepat karena pembatasan cairan penting pada gagal jantung, tetapi bukan prioritas saat terjadi hipoksemia akut. C dan E berguna untuk pemantauan status cairan, tetapi tidak segera mengatasi masalah ABC. D merupakan edukasi jangka panjang dan tidak sesuai dengan kondisi akut.
Soal 2
Seorang perempuan, 64 tahun, dirawat dengan diagnosis diabetes melitus tipe 2. Pasien mengeluh lemas, berkeringat dingin, dan gemetar setelah terlambat makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 118/74 mmHg, N 104 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 36,5°C, dan glukosa darah kapiler 54 mg/dL. Pasien sadar penuh dan mampu menelan.
Tindakan awal yang paling tepat adalah …
A. Memberikan karbohidrat sederhana secara oral
B. Memberikan insulin kerja cepat
C. Memasang kateter urin
D. Membatasi asupan makanan
E. Mengobservasi selama 30 menit tanpa intervensi
Jawaban: A
Pembahasan:
Pasien mengalami hipoglikemia dan masih sadar serta mampu menelan. Pemberian karbohidrat sederhana oral merupakan tindakan awal yang tepat untuk meningkatkan kadar glukosa darah dengan cepat.
B salah karena insulin akan memperburuk hipoglikemia. C tidak berkaitan dengan masalah utama. D justru memperburuk kondisi. E tidak tepat karena hipoglikemia memerlukan koreksi segera.
Soal 3
Seorang laki-laki, 47 tahun, datang dengan keluhan nyeri dada seperti tertindih sejak 30 menit lalu yang menjalar ke lengan kiri. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 92/60 mmHg, N 118 kali/menit, RR 26 kali/menit, SpO₂ 93%, kulit dingin, dan pasien tampak cemas.
Data yang paling menunjukkan adanya gangguan perfusi adalah …
A. Nyeri menjalar ke lengan kiri
B. Pasien tampak cemas
C. TD 92/60 mmHg dan kulit dingin
D. RR 26 kali/menit
E. SpO₂ 93%
Jawaban: C
Pembahasan l:
Hipotensi dan kulit dingin merupakan tanda penurunan perfusi perifer akibat gangguan sirkulasi. Kedua data ini paling kuat menunjukkan masalah perfusi.
A mendukung dugaan sindrom koroner akut, tetapi tidak secara langsung menunjukkan perfusi menurun. B bersifat nonspesifik. D menunjukkan takipnea, sedangkan E menunjukkan sedikit penurunan saturasi, tetapi belum sekuat data hipotensi dan kulit dingin dalam menggambarkan gangguan perfusi.
Soal 4
Seorang perempuan, 52 tahun, dirawat dengan penyakit ginjal kronis. Pasien mengeluh lemah dan jantung berdebar. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 150/88 mmHg, N 110 kali/menit, RR 22 kali/menit, terdapat edema tungkai, dan hasil laboratorium menunjukkan kadar kalium serum 6,4 mEq/L.
Temuan yang paling perlu dipantau segera adalah …
A. Perubahan pola eliminasi urine
B. Tingkat edema perifer
C. Nafsu makan pasien
D. Irama jantung
E. Berat badan harian
Jawaban: D
Pembahasan:
Hiperkalemia dapat menyebabkan gangguan konduksi dan aritmia yang mengancam nyawa. Karena kadar kalium 6,4 mEq/L disertai palpitasi, pemantauan irama jantung menjadi prioritas.
A, B, dan E penting untuk menilai status cairan serta fungsi ginjal, tetapi tidak seurgent risiko aritmia. C bukan prioritas pada kondisi ini.
Soal 5
Seorang laki-laki, 60 tahun, dirawat dengan PPOK eksaserbasi. Pasien mengeluh sesak dan batuk berdahak. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 130/80 mmHg, N 102 kali/menit, RR 30 kali/menit, SpO₂ 88%, terdengar wheezing, dan pasien menggunakan otot bantu napas.
Masalah keperawatan utama adalah …
A. Intoleransi aktivitas
B. Gangguan pola tidur
C. Bersihan jalan napas tidak efektif
D. Defisit pengetahuan
E. Risiko ketidakseimbangan nutrisi
Jawaban: C
Pembahasan:
Batuk berdahak, wheezing, takipnea, penggunaan otot bantu napas, dan saturasi rendah menunjukkan adanya gangguan pada patensi jalan napas akibat sekret dan obstruksi.
A mungkin muncul, tetapi bukan masalah paling prioritas. B dan D tidak didukung oleh data utama. E juga tidak menjadi masalah akut yang paling menonjol.
Soal 6
Seorang perempuan, 45 tahun, dirawat dengan sirosis hepatis. Pasien tampak mengantuk, sulit berkonsentrasi, dan mengalami perubahan perilaku sejak pagi. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 110/70 mmHg, N 96 kali/menit, RR 18 kali/menit, suhu 36,8°C, terdapat asites, dan ditemukan asteriksis.
Masalah yang paling mungkin terjadi adalah …
A. Ensefalopati hepatik
B. Syok hipovolemik
C. Peritonitis akut
D. Gagal napas
E. Hipoglikemia berat
Jawaban: A
Pembahasan:
Perubahan kesadaran, gangguan konsentrasi, perubahan perilaku, dan asteriksis pada pasien sirosis sangat khas untuk ensefalopati hepatik.
B tidak didukung karena tekanan darah relatif stabil. C biasanya disertai nyeri abdomen dan tanda infeksi. D tidak didukung oleh pola napas yang normal. E mungkin menyebabkan perubahan kesadaran, tetapi tidak menjelaskan asteriksis dan konteks sirosis sekuat ensefalopati hepatik.
Soal 7
Seorang laki-laki, 55 tahun, dirawat dengan stroke iskemik. Pasien mengalami kelemahan sisi kanan dan kesulitan menelan. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 170/96 mmHg, N 88 kali/menit, RR 20 kali/menit, SpO₂ 96%, suara terdengar gurgling setelah mencoba minum air, dan refleks batuk menurun.
Tindakan keperawatan prioritas adalah …
A. Memberikan makanan lunak dalam porsi kecil
B. Melatih pasien berjalan dengan bantuan
C. Memberikan cairan melalui sedotan
D. Menghentikan pemberian oral sementara dan melakukan evaluasi kemampuan menelan
E. Memposisikan pasien telentang setelah makan
Jawaban: D
Pembahasan:
Gurgling setelah minum dan refleks batuk menurun menunjukkan risiko aspirasi tinggi. Pemberian oral harus dihentikan sementara sampai kemampuan menelan dinilai lebih lanjut.
A dan C meningkatkan risiko aspirasi. B penting untuk rehabilitasi, tetapi bukan prioritas saat terdapat ancaman jalan napas. E justru meningkatkan risiko aspirasi karena posisi telentang setelah makan tidak aman.
Latihan Soal Keperawatan Gawat Darurat & Kritis (KGD/Triage)
Berikut beberapa contoh soal UKOM Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis yang dapat digunakan untuk melatih kemampuan menentukan prioritas, mengenali kondisi yang mengancam nyawa, dan memilih tindakan awal yang paling tepat.
Soal 1
Seorang laki-laki, 32 tahun, datang ke IGD setelah kecelakaan lalu lintas. Pasien tampak gelisah, terdapat luka terbuka pada paha kanan dengan perdarahan aktif. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 88/56 mmHg, N 128 kali/menit, RR 28 kali/menit, SpO₂ 94%, kulit pucat dan dingin.
Tindakan keperawatan prioritas adalah …
A. Memberikan analgesik
B. Mengontrol perdarahan dengan penekanan langsung pada luka
C. Membersihkan luka dengan cairan antiseptik
D. Mengukur lingkar paha
E. Mengkaji riwayat imunisasi tetanus
Jawaban: B
Pembahasan:
Pasien menunjukkan tanda syok hipovolemik akibat perdarahan aktif. Kontrol perdarahan harus segera dilakukan untuk mencegah kehilangan volume lebih lanjut.
A penting untuk kenyamanan, tetapi bukan prioritas. C dapat dilakukan setelah perdarahan terkendali. D dan E tidak mengatasi ancaman sirkulasi yang sedang terjadi.
Soal 2
Seorang perempuan, 68 tahun, datang ke IGD dengan sesak berat yang muncul tiba-tiba. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 182/104 mmHg, N 118 kali/menit, RR 34 kali/menit, SpO₂ 82%, terdengar ronki basah bilateral, dan pasien tampak sianosis.
Prioritas tindakan awal adalah …
A. Memposisikan semi-Fowler dan memberikan oksigen sesuai kebutuhan
B. Menimbang berat badan
C. Membatasi asupan natrium
D. Mengukur jumlah urin 24 jam
E. Memberikan edukasi mengenai gagal jantung
Jawaban: A
Pembahasan:
Pasien mengalami gangguan oksigenasi berat dengan saturasi 82%, takipnea, sianosis, dan ronki basah. Posisi semi-Fowler dan oksigenasi menjadi prioritas berdasarkan prinsip breathing.
B, C, D, dan E relevan untuk pengelolaan gagal jantung, tetapi tidak mengatasi ancaman hipoksemia akut.
Soal 3
Seorang laki-laki, 40 tahun, ditemukan tidak sadar setelah mengalami kejang. Saat tiba di IGD, pasien membuka mata terhadap rangsangan nyeri, mengeluarkan suara tidak jelas, dan menarik ekstremitas saat diberi rangsangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 138/84 mmHg, N 98 kali/menit, RR 18 kali/menit, SpO₂ 95%.
Berapakah nilai Glasgow Coma Scale pasien?
A. 7
B. 8
C. 9
D. 10
E. 11
Jawaban: C
Pembahasan:
Membuka mata terhadap nyeri = E2, suara tidak jelas = V2, dan menarik ekstremitas terhadap nyeri = M5. Total GCS adalah 9.
A, B, D, dan E tidak sesuai dengan penjumlahan komponen respons mata, verbal, dan motorik yang ditemukan.
Soal 4
Seorang perempuan, 25 tahun, datang ke IGD dengan luka bakar akibat ledakan di ruang tertutup. Terdapat luka bakar pada wajah dan dada, bulu hidung tampak hangus, suara serak, dan terdapat jelaga di sekitar mulut. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 118/76 mmHg, N 108 kali/menit, RR 26 kali/menit, SpO₂ 92%.
Masalah yang harus diprioritaskan adalah …
A. Nyeri akut
B. Risiko infeksi
C. Kekurangan volume cairan
D. Risiko obstruksi jalan napas
E. Kerusakan integritas kulit
Jawaban: D
Pembahasan:
Luka bakar wajah, suara serak, bulu hidung hangus, dan jelaga menunjukkan kemungkinan cedera inhalasi dengan risiko edema jalan napas. Ancaman airway harus didahulukan.
A, B, C, dan E memang penting pada pasien luka bakar, tetapi tidak lebih mendesak dibandingkan potensi obstruksi jalan napas.
Soal 5
Di area triage IGD terdapat empat pasien datang hampir bersamaan. Pasien manakah yang harus mendapat prioritas tertinggi?
A. Laki-laki 28 tahun dengan luka robek tangan, TD 124/78 mmHg, N 86 kali/menit, RR 18 kali/menit
B. Perempuan 35 tahun dengan demam 38,5°C dan nyeri tenggorokan, TD 116/74 mmHg, N 94 kali/menit
C. Laki-laki 60 tahun dengan nyeri dada ringan sejak 2 jam, TD 142/86 mmHg, N 88 kali/menit
D. Perempuan 22 tahun dengan fraktur tertutup lengan, TD 120/76 mmHg, N 92 kali/menit
E. Laki-laki 50 tahun dengan sesak berat, RR 36 kali/menit, SpO₂ 79%, dan tampak sianosis
Jawaban: E
Pembahasan:
SpO₂ 79%, takipnea berat, dan sianosis menunjukkan ancaman breathing yang dapat mengancam nyawa secara segera. Pasien ini harus mendapat prioritas tertinggi.
A, B, C, dan D tetap membutuhkan penanganan, tetapi kondisi vitalnya lebih stabil dibandingkan pasien dengan hipoksemia berat.
Soal 6
Seorang laki-laki, 57 tahun, dirawat di ICU akibat sepsis. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 78/48 mmHg, N 126 kali/menit, RR 30 kali/menit, suhu 39,2°C, SpO₂ 91%, ekstremitas dingin, dan produksi urin 15 mL/jam.
Data yang paling menunjukkan adanya gangguan perfusi organ adalah …
A. Suhu 39,2°C
B. RR 30 kali/menit
C. Produksi urin 15 mL/jam
D. Nadi 126 kali/menit
E. SpO₂ 91%
Jawaban: C
Pembahasan:
Produksi urin yang sangat rendah menunjukkan penurunan perfusi ginjal dan dapat menjadi indikator gangguan perfusi organ pada syok sepsis.
A menunjukkan infeksi, B dan D menunjukkan respons fisiologis, sedangkan E menunjukkan gangguan oksigenasi ringan. Namun, oliguria lebih spesifik menggambarkan perfusi organ yang menurun.
Soal 7
Seorang perempuan, 30 tahun, datang ke IGD setelah mengalami reaksi alergi berat beberapa menit setelah mendapat obat injeksi. Pasien mengeluh sesak, bibir membengkak, suara serak, dan muncul urtikaria. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 76/44 mmHg, N 132 kali/menit, RR 32 kali/menit, SpO₂ 84%.
Tindakan yang paling diprioritaskan adalah …
A. Mengobservasi perkembangan ruam kulit
B. Memberikan cairan oral
C. Menyiapkan dan memberikan epinefrin sesuai protokol kegawatdaruratan
D. Memberikan edukasi tentang alergi obat
E. Mengompres area urtikaria
Jawaban: C
Pembahasan:
Pasien menunjukkan anafilaksis dengan hipotensi, edema jalan napas, sesak, dan hipoksemia. Epinefrin merupakan terapi utama yang harus diberikan segera sesuai protokol.
A dan E hanya menangani manifestasi kulit. B tidak aman pada pasien dengan ancaman jalan napas. D penting untuk pencegahan berikutnya, tetapi bukan prioritas pada kondisi akut.
Latihan Soal Maternitas, Anak, dan Keperawatan Jiwa
Bagian ini memuat latihan kasus yang menguji kemampuan menentukan prioritas asuhan pada ibu, bayi, anak, serta pasien dengan masalah kesehatan jiwa. Setiap soal dirancang dengan data klinis yang perlu dianalisis sebelum menentukan tindakan paling tepat.
Soal 1
Seorang perempuan, 28 tahun, G2P1A0 usia kehamilan 39 minggu, datang ke ruang bersalin dengan kontraksi teratur. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 118/76 mmHg, N 88 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 36,8°C, pembukaan serviks 8 cm, ketuban sudah pecah, dan DJJ 90 kali/menit selama lebih dari 2 menit.
Tindakan keperawatan yang paling diprioritaskan adalah …
A. Menganjurkan ibu berjalan untuk mempercepat penurunan kepala
B. Memberikan minum hangat untuk meningkatkan kenyamanan
C. Memposisikan ibu miring kiri dan segera melaporkan kondisi janin
D. Melakukan pemeriksaan dalam berulang setiap 15 menit
E. Menganjurkan ibu mengejan setiap kontraksi
Jawaban: C
Pembahasan:
DJJ 90 kali/menit yang menetap menunjukkan bradikardia janin dan dapat mengarah pada gangguan oksigenasi. Posisi miring kiri membantu meningkatkan perfusi uteroplasenta, sedangkan kondisi janin harus segera dilaporkan untuk penanganan lebih lanjut.
A tidak tepat karena kondisi janin sedang tidak stabil. B tidak mengatasi masalah utama. D dapat meningkatkan risiko infeksi dan tidak menjadi prioritas. E tidak tepat karena pembukaan belum lengkap dan dapat memperburuk kondisi.
Soal 2
Seorang perempuan, 32 tahun, dua jam setelah melahirkan spontan mengeluh lemas dan pusing. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 86/54 mmHg, N 124 kali/menit, RR 24 kali/menit, uterus teraba lembek, dan perdarahan pervaginam sekitar 600 mL.
Tindakan awal yang paling tepat adalah …
A. Melakukan masase fundus uteri
B. Menganjurkan ibu menyusui setelah kondisi stabil
C. Memberikan edukasi mengenai involusi uterus
D. Membantu ibu berjalan ke kamar mandi
E. Mengobservasi kembali setelah 30 menit
Jawaban: A
Pembahasan:
Uterus lembek disertai perdarahan postpartum dan tanda hipovolemia mengarah pada atonia uteri. Masase fundus menjadi tindakan awal untuk merangsang kontraksi uterus.
B dapat membantu pelepasan oksitosin, tetapi bukan tindakan pertama pada perdarahan aktif. C tidak sesuai kondisi akut. D berisiko menyebabkan jatuh karena hipotensi. E berbahaya karena perdarahan memerlukan intervensi segera.
Soal 3
Seorang anak laki-laki, 4 tahun, dibawa ke IGD karena diare cair lebih dari 10 kali sejak kemarin. Anak tampak sangat lemah, mata cekung, tidak mau minum, dan cubitan kulit kembali sangat lambat. Hasil pemeriksaan menunjukkan N 132 kali/menit, RR 28 kali/menit, suhu 37,2°C.
Masalah keperawatan utama adalah …
A. Hipertermia
B. Defisit volume cairan
C. Gangguan pola tidur
D. Ketidakseimbangan nutrisi
E. Gangguan eliminasi
Jawaban: B
Pembahasan:
Frekuensi diare tinggi, mata cekung, tidak mampu minum, takikardia, dan turgor sangat lambat menunjukkan dehidrasi berat. Defisit volume cairan menjadi masalah yang paling prioritas.
A tidak didukung karena suhu normal. C tidak relevan dengan ancaman utama. D dapat terjadi, tetapi tidak seurgent kekurangan cairan. E benar terkait diare, tetapi bukan prioritas dibandingkan gangguan volume sirkulasi.
Soal 4
Seorang bayi laki-laki, usia 8 bulan, dirawat dengan pneumonia. Ibu mengatakan bayi sulit menyusu dan tampak semakin sesak. Hasil pemeriksaan menunjukkan suhu 38,6°C, N 148 kali/menit, RR 58 kali/menit, SpO₂ 87%, terdapat retraksi dinding dada dan napas cuping hidung.
Tindakan keperawatan prioritas adalah …
A. Memberikan makanan tambahan dalam porsi kecil
B. Mengompres bayi dengan air hangat
C. Mengajarkan ibu cara membersihkan hidung
D. Memastikan jalan napas terbuka dan memberikan oksigen sesuai kebutuhan
E. Menimbang berat badan bayi
Jawaban: D
Pembahasan:
Retraksi, napas cuping hidung, takipnea, dan SpO₂ 87% menunjukkan gangguan breathing yang membutuhkan koreksi oksigenasi segera.
A dan E dapat dilakukan setelah kondisi stabil. B hanya membantu mengatasi demam. C bermanfaat bila terdapat sekret, tetapi masalah yang lebih mendesak adalah hipoksemia.
Soal 5
Seorang perempuan, 24 tahun, dirawat di ruang jiwa dengan diagnosis skizofrenia. Pasien mengatakan, “Ada suara yang menyuruh saya memukul orang di sebelah saya.” Pasien tampak tegang, mondar-mandir, mengepalkan tangan, TD 130/84 mmHg, N 102 kali/menit, dan RR 22 kali/menit.
Tindakan keperawatan yang paling tepat adalah …
A. Membiarkan pasien sendiri agar lebih tenang
B. Menanyakan secara rinci isi halusinasi tanpa mengamankan lingkungan
C. Mengajak pasien berdiskusi panjang mengenai alasan suara tersebut muncul
D. Meminta pasien mengabaikan suara dan kembali beraktivitas
E. Mengamankan lingkungan, menjaga jarak aman, dan menilai risiko perilaku kekerasan
Jawaban: E
Pembahasan:
Halusinasi perintah disertai tanda agitasi meningkatkan risiko perilaku kekerasan. Keselamatan pasien dan orang lain harus menjadi prioritas melalui pengamanan lingkungan serta penilaian risiko.
A meningkatkan risiko kejadian tanpa pengawasan. B tidak boleh didahulukan sebelum aspek keamanan. C tidak sesuai kondisi akut. D tidak cukup untuk mengendalikan risiko kekerasan.
Soal 6
Seorang laki-laki, 35 tahun, dirawat setelah percobaan bunuh diri. Pasien mengatakan, “Saya menyesal gagal. Kalau pulang nanti, saya akan mencoba lagi.” Pasien tampak tenang, TD 116/72 mmHg, N 82 kali/menit, RR 18 kali/menit, dan tidak menunjukkan agitasi.
Tindakan keperawatan prioritas adalah …
A. Memastikan pengawasan ketat dan menghilangkan benda yang berpotensi digunakan untuk melukai diri
B. Memberikan kesempatan pasien beristirahat sendiri di kamar
C. Menunda pengkajian karena pasien tampak tenang
D. Mengalihkan pembicaraan ke pengalaman positif
E. Menganjurkan keluarga membawa pasien pulang agar merasa lebih nyaman
Jawaban: A
Pembahasan:
Pasien mengungkapkan niat bunuh diri yang masih aktif. Pernyataan tersebut merupakan risiko tinggi meskipun pasien tampak tenang, sehingga keselamatan harus diprioritaskan.
B meningkatkan kesempatan melakukan tindakan mencederai diri. C berbahaya karena risiko tetap tinggi. D tidak cukup mengatasi ancaman. E tidak tepat sebelum risiko bunuh diri dinilai dan dikendalikan.
Soal 7
Seorang perempuan, 29 tahun, hari ketiga setelah melahirkan tampak sering menangis, merasa tidak mampu merawat bayinya, tetapi masih mau menyusui dan berinteraksi ketika dibantu keluarga. Hasil pemeriksaan menunjukkan TD 112/70 mmHg, N 84 kali/menit, RR 18 kali/menit, suhu 36,7°C. Tidak ditemukan keinginan menyakiti diri atau bayi.
Respons keperawatan yang paling tepat adalah …
A. Segera memisahkan ibu dari bayi
B. Menjelaskan bahwa perasaan tersebut harus diabaikan
C. Memberikan dukungan emosional, melibatkan keluarga, dan memantau perkembangan kondisi psikologis
D. Membatasi kunjungan keluarga agar ibu lebih banyak beristirahat
E. Menyatakan bahwa kondisi pasti merupakan psikosis postpartum
Jawaban: C
Pembahasan:
Gejala ringan pada beberapa hari pertama postpartum tanpa ide menyakiti diri atau bayi dapat mengarah pada postpartum blues. Dukungan emosional, keterlibatan keluarga, istirahat, dan pemantauan menjadi pendekatan yang tepat.
A tidak diperlukan tanpa risiko terhadap bayi. B dapat membuat ibu merasa tidak dipahami. D justru dapat mengurangi dukungan sosial. E tidak sesuai karena psikosis postpartum biasanya disertai gangguan berat seperti delusi, halusinasi, atau perilaku yang membahayakan.
Tips Manajemen Waktu Pengerjaan Ujian CBT UKOM
Manajemen waktu menjadi salah satu faktor penting saat mengerjakan UKOM berbasis CBT. Soal vignette sering kali cukup panjang, sehingga peserta perlu membagi waktu dengan baik agar tidak terlalu lama berhenti pada satu kasus.
1. Baca Pertanyaan Sebelum Seluruh Vignette
Lihat terlebih dahulu apa yang ditanyakan, misalnya masalah utama, tindakan prioritas, evaluasi, atau diagnosis keperawatan. Cara ini membantu Anda lebih cepat menemukan data yang relevan.
2. Tandai Data Klinis yang Paling Abnormal
Fokus pada TTV, tingkat kesadaran, saturasi oksigen, perdarahan, nyeri, hasil laboratorium, dan data objektif lain yang paling menentukan kondisi pasien.
3. Gunakan Prinsip ABC untuk Kasus Prioritas
Jika terdapat masalah airway, breathing, atau circulation, dahulukan ancaman yang paling berisiko terhadap keselamatan pasien sebelum mempertimbangkan masalah lain.
4. Jangan Terlalu Lama pada Satu Soal
Jika jawaban belum ditemukan setelah melakukan analisis singkat, pilih opsi yang paling rasional atau tandai soal untuk ditinjau kembali apabila sistem memungkinkan. Hindari menghabiskan terlalu banyak waktu hanya pada satu vignette.
5. Eliminasi Opsi yang Jelas Tidak Sesuai
Singkirkan jawaban yang tidak menjawab pertanyaan, tidak sesuai kewenangan perawat, tidak berhubungan dengan data fokus, atau bukan tindakan prioritas. Biasanya pilihan akan lebih mudah setelah dua atau tiga opsi dieliminasi.
6. Bedakan Tindakan Benar dengan Tindakan Prioritas
Beberapa pilihan dapat benar secara teori, tetapi UKOM sering meminta tindakan pertama, utama, atau paling tepat. Pilih jawaban yang paling sesuai dengan kondisi pasien saat itu.
7. Sisakan Waktu untuk Pemeriksaan Akhir
Jangan menggunakan seluruh waktu untuk putaran pertama. Sisakan beberapa menit untuk mengecek soal yang diragukan, memastikan tidak ada jawaban kosong, serta meninjau kembali pilihan yang sebelumnya ditandai.
Kuncinya adalah menjaga ritme pengerjaan. Baca kasus secara terarah, temukan data fokus, tentukan masalah utama, kemudian segera pilih jawaban yang paling prioritas.
FAQ Kelulusan UKOM & Alur Penerbitan STR
Setelah mengikuti UKOM, peserta biasanya memiliki beberapa pertanyaan mengenai hasil kelulusan, sertifikat kompetensi, hingga proses memperoleh STR. Berikut beberapa pertanyaan yang perlu dipahami.
1. Kapan hasil UKOM Ners dan D3 Keperawatan diumumkan?
Pengumuman hasil UKOM mengikuti jadwal setiap periode pelaksanaan. Peserta sebaiknya memantau portal resmi Uji Kompetensi Keperawatan karena tanggal pengumuman dapat berbeda pada setiap periode.
2. Bagaimana cara mengetahui lulus atau tidak lulus UKOM?
Status kelulusan diumumkan melalui sistem atau pengumuman resmi penyelenggara UKOM. Hasil tersebut menjadi dasar proses penerbitan sertifikat kompetensi sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Apakah ada nilai minimum kelulusan UKOM?
Penetapan kelulusan mengikuti kebijakan dan keputusan resmi penyelenggara pada periode ujian terkait. Karena ketentuannya dapat diperbarui, peserta sebaiknya tidak hanya berpatokan pada passing grade yang beredar dari sumber tidak resmi.
4. Apa yang harus dilakukan jika tidak lulus UKOM?
Peserta dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti periode UKOM berikutnya sesuai ketentuan penyelenggara. Evaluasi bagian yang masih lemah dan perbanyak latihan soal vignette agar kemampuan analisis klinis semakin terasah.
5. Apa itu Sertifikat Kompetensi atau SerKom?
Sertifikat Kompetensi merupakan dokumen yang berkaitan dengan hasil uji kompetensi sesuai ketentuan yang berlaku. Portal resmi UKOM Keperawatan juga menyediakan layanan pengecekan SerKom bagi peserta.
6. Apakah setelah lulus UKOM STR langsung terbit?
Tidak selalu secara otomatis. Setelah persyaratan profesi terpenuhi, tenaga kesehatan perlu memastikan data profesional telah terintegrasi dan mengikuti proses registrasi sesuai mekanisme yang ditetapkan pemerintah.
7. Bagaimana alur pengajuan STR perawat saat ini?
Secara umum, alurnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Lulus pendidikan → mengikuti dan lulus UKOM sesuai ketentuan → memastikan data dan dokumen profesi tersedia → mengakses SATUSEHAT SDMK → mengajukan STR → proses verifikasi → STR diterbitkan.
Pastikan identitas dan data pendidikan yang tercatat sudah benar agar proses verifikasi tidak terkendala.
8. Di mana pengajuan STR dilakukan?
Saat ini tenaga medis dan tenaga kesehatan dapat menggunakan SATUSEHAT SDMK untuk mengelola data profesional sekaligus mengakses layanan pengajuan STR.
9. Berapa lama masa berlaku STR perawat?
Mekanisme terbaru telah menyediakan STR seumur hidup bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan melalui SATUSEHAT SDMK. Karena itu, mekanismenya berbeda dengan sistem lama yang mengharuskan pembaruan STR setiap lima tahun.
10. Apa yang harus dilakukan jika data untuk pengajuan STR tidak sesuai?
Periksa kembali data diri, pendidikan, maupun profil profesional yang tercatat di SATUSEHAT SDMK. Jika terdapat ketidaksesuaian, lakukan pemutakhiran atau ikuti mekanisme bantuan yang tersedia sebelum melanjutkan pengajuan.
Kelulusan UKOM merupakan salah satu tahap penting menuju praktik profesional. Karena itu, selain mempersiapkan ujian, pastikan Anda juga mengikuti informasi resmi terkait SerKom dan registrasi STR agar proses setelah kelulusan dapat berjalan lancar.
Akses Paket Latihan UKOM Ners & D3 Keperawatan Disini!

Kerjakan lebih banyak soal UKOM Ners dan D3 Keperawatan berbasis vignette klinis di ujikom.id lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasan. Gunakan paket latihan untuk membiasakan diri menganalisis kasus, menentukan prioritas tindakan, dan meningkatkan kesiapan menghadapi ujian CBT UKOM.


